Catatan Perjalanan: (Film) dari Jember ke India

Tahun lalu Yuli Andari, filmmaker perempuan Indonesia filmnya terpilih untuk diputar di IAWRT 7th Asian Women’s Film Festival 2011. Tahun ini, kebetulan saya yang diundang ke India dan film saya “Yup, It’s My Body” terpilih untuk diputar di IAWRT 8th Asian Women’s Film Festival 2012. Ini pertama kalinya saya melakukan perjalan jauh sendirian ke luar negeri, walau seminggu sebelumnya saya sudah ke Malaysia mengikuti Camp Sambel 2 bersama beberapa teman lain dari Indonesia dan Papua.

Sebelum berangkat ke India, rasanya gugup. Bukan hanya kekhawatiran soal kendala bahasa, karena bahasa Inggris saya yang masih berantakan, tapi juga karena hingga saat berangkat dari Jakarta pagi hari, saya belum tahu akan menginap di mana setiba di India. Panitia menyediakan selama berlangsungnya acara, sedangkan saya akan datang sehari lebih awal. Sempat berpikir untuk tidur di bandara saja setiba di New Delhi dan baru ke lokasi acara keesokan paginya. Tapi syukurlah, saat transit di bandara di Malaysia, panitia berhasil menemukan tempat penginapan yang sesuai dengan budget saya. Tempatnya murah, dilarang merokok, minum alkohol, dan hanya tersedia makanan vegetarian. Saya pikir tidak jadi masalah. Pada 4 Maret 2012, saya tiba di New Delhi dan dijemput seorang panitia namanya Uma Tanuku. Sepanjang perjalanan dari bandara New Delhi menuju penginapan di Sai Dham, semacam kuil yang punya kamar-kamar untuk disewakan, sopir taksi memutar lagu-lagu India yang biasa kita dengar dari film-film Bollywood. 

Hari pertama, saya menghadiri SANGAT Seminar, sayang tidak semua filmmaker yang hadir, mungkin mereka masih jetlag. Kamla Bashin, feminis senior dari India berbagi ilmu dan pengalamannya dalam seminar ini. Di tengah-tengah seminar, tiba-tiba terjadi gempa bumi, agak kencang, sampai kepala rasanya seperti sedang hang-over. Tidak ada kepanikan di dalam ruangan selama sekian menit, lalu seminar dilanjutkan kembali.

Hari kedua dan seterusnya, saya selalu bangun pagi dan berusaha tidak melewatkan untuk menonton film-film yang diputar dan mengikuti diskusinya. Walaupun karena beberapa hal, saya jadi tidak sempat menonton beberapa film yang padahal sangat ingin saya tonton. 

Saat makan siang, saya selalu ngobrol dengan panitia, Reena Mohan dan Jai Chandiram, atau dengan perempuan-perempuan filmmaker dari negara lain yang hadir, seperti Hongkong, India, Kanada, Turki, dan Afghanistan. Menyimak cerita pengalaman dan aktivitas mereka sangat menyenangkan, ada pembuat film dokumenter, fiksi, video eksperimental, hingga animasi. Saya dan dua orang kawan dari Hongkong juga sempat berjalan-jalan di areal IIC (India International Centre) karena saat itu sedang ada Holi Festival.

Saya, Ada Shek, Ching, dan pemuda-pemuda India yang sedang berpesta

Menarik untuk mengerti bahwa sebagai perempuan dan filmmaker, kadang tanpa disadari merupakan hal yang tidak mudah. Seperti, cerita kawan-kawan dari Afghanistan. Saya dan mereka sempat ada ide rencana berkolaborasi, namun karena beberapa alasan yang mungkin sensitif dan membahayakan terutama bagi mereka, maka akan saya ceritakan lain kali. Garis besarnya, perempuan-perempuan filmmaker dari Afghanistan, Pakistan, Iran, dan Turki berhadapan dengan persoalan-persoalan agama, tradisi, keluarga, dan lingkungan sekitar. 

Menonton film-film karya para perempuan filmmaker dari berbagai bangsa merupakan pengalaman yang luar biasa buat saya. Sudut pandang dan sentuhan mereka pada suatu persoalan, seperti emulsi, membaur. Entah, saya menangkapnya sebagai karya yang bertutur secara personal namun universal, tidak semata-mata soal perempuan.

Waktu yang ada selain untuk menonton film, kami gunakan untuk berdiskusi atau sekedar obrolan ringan sambil makan siang atau makan malam. Setiap hari bersama membuat kami semakin akrab dan semakin banyak bahan pembicaraan. Shereen Soliman dari Kanada, Debjani Mukherjee dan Shilpa Munikempanna dari India, Nefise Özkal Lorentzen dari (Norwegia) Turki, Ada Shek dari Hongkong, Shida Mobtaker, Fatema Hossaini, Karima, Fatema Hasani dari Afghanistan, dll, mereka menginspirasi saya. Hari terakhir festival membuat saya sedih harus berpisah dengan mereka. Saya dan kawan-kawan dari Afghanistan masih sempat mengobrol dan bercanda sampai dini hari. Mereka masih akan tinggal di New Delhi hingga beberapa hari, sedangkan saya dan Shereen pindah ke Pondicherry untuk menghadiri 2nd  Asian Women’s Film Festival yang diselenggarakan Pondicherry University.

Saya, Shereen Soliman, Jai Chandiram, dan Shazia Ilmi berangkat ke Pondicherry. Lama perjalanan dari New Delhi ke Chennai dengan pesawat terbang sekitar 2 jam, dari bandara Chennai menggunakan mobil atau taksi ke Pondicherry sekitar 2 jam.

Kami menginap di guest house Pondicherry University. Reward dari perjalanan kali ini adalah lokasinya yang sangat dekat dengan pantai. Cukup berjalan kaki sekitar 5 sampai 10 menit menuju pantai yang letaknya tepat di belakang guest house. Bayangkan jika setiap bangun tidur jam 6 pagi berjalan ke pantai, lalu kembali ke guest house untuk sarapan atau minum kopi jam 7 pagi, menyenangkan sekali terutama karena pantainya bukan yang biasa menjadi lokasi turis sehingga kita bisa menikmati suasana hening, suara ombak laut, dan hangat matahari. 

Setelah sarapan, kami berangkat ke kampus School of Management, Pondicherry University, lokasi festival berlangsung. Serunya bertemu dengan para mahasiswa yang beragam, ternyata mereka bukan hanya berasal dari India tapi ada juga yang berasal dari Arab Saudi, Bangladesh, dan Srilanka. Setiap hari venue selalu penuh, penonton yang datang juga selalu aktif berdiskusi, bahkan hingga pemutaran film berakhir, mereka masih antusias mengajak diskusi di luar ruangan sambil minum teh.

Saat jam makan siang atau petang, kami menyempatkan mampir ke Auroville Sri Aurobindo. Suatu tempat yang sangat menenangkan dan mengajak kita untuk saling berkoneksi tidak hanya dengan sesama manusia tapi juga bagian lain dari alam semesta, tanpa memandang berbagai macam perbedaan. Beruntung juga, Tapaz, kawan Jai Chandiram, perempuan India yang jago beberapa bahasa karena bertahun-tahun menjadi volunteer di situ dan banyak berkelana ini, mengantarkan kami untuk makan di Solar Kitchen. Semacam restoran tempat singgah. Di dekat pintu masuk ada papan, di situ tertempel kertas-kertas poster dan flyer informasi acara tari, konser, festival filmsaya sempat bermeditasi di Matrimandir. Saya tidak bisa merekamnya dengan kamera, jadi untuk menjelaskan suasana di dalam Matrimandir akan saya ceritakan sedikit saja dan semoga suatu saat bisa mengalaminya. Matrimandir adalah suatu bangunan berbentuk bulatan raksasa, yang terdiri dari lempengan-lempengan berwarna emas. Saat masuk ke Matrimandir kita dilarang membawa benda-benda seperti ponsel, kamera, tas, dsb. Kita juga dilarang bersuara, semua harus hening. Alas kaki harus dilepas, di depan pintu sudah ada volunteer yang membagikan kaos kaki bersih untuk setiap orang yang datang untuk bermeditasi.

Shereen dengan background Matrimandir

Cahaya di dalam Matrimandir hanya berasal dari matahari, ada tangga yang bentuknya berputar dengan alas karpet putih yang empuk, lebih empuk dari karpet di bioskop XXI. Kita bisa lihat simbol-simbol di dinding dan lantai, ada suara gemericik air yang tenang. Sampai di satu ruangan yang sangat luas dan gelap, masing-masing orang duduk untuk meditasi dengan jarak-jarak yang sudah ditentukan. Di tengah ada sebuah bola kaca yang menangkap pantulan sinar matahari tepat satu titik di atasnya, bola kaca itu berubah-ubah warna, bayangan awan, hijau, biru, seperti globe virtual. Di luar juga ada bola kaca serupa yang letaknya berada di tengah kolam. Saya dan Sheeren sempat membayangkan tempat ini seperti dalam film-film science fiction.

Film-film kami juga diputar di Auditorium Sri Aurobindo. Kebanyakan penonton yang hadir adalah ekspatriat. Saya dan Shereen mempresentasikan film kami dengan mereka. Dari acara itu pula, saya  mengenal Francoise, seorang seniman perempuan asal Prancis yang tiba-tiba suatu siang menyapa saya di sebuah kafe dan mengatakan bahwa dia datang menonton film saya di Auditorium Sri Aurobindo. Kami berbincang dan saling bertukar kontak. Menarik, bahwa saya tidak hanya bisa bertemu dengan sesama filmmaker perempuan yang diundang ke festival tapi juga bisa bertemu dengan orang-orang baru lainnya. Ini memperkaya pengalaman saya.

Anak-anak para penari di sekitar Auditorium Sri Aurobindo

Ups, saya juga tidak sengaja menemukan buku kecil berjudul “KIKI” di Auroville Ashram yang sampulnya bergambar wajah kucing. Malam terakhir di Pondicherry, Jai mengajak kami minum bir di sebuah kafe. Saat akan masuk kafe, seorang waitress-nya berkata “No kid!” kami tertawa, dan Jai menjawab “No, she’s not kid”, waitress itu masih tetap melihat ke arah saya walaupun membiarkan saya masuk dan waitress lain masih tampak ragu-ragu saat saya membeli rokok untuk koleksi, okaaaay… I’m not kid anymore!

Tapi hal yang paling berharga dari pengalaman berkunjung ke India adalah dapat menonton film-film karya filmmaker perempuan dari berbagai negara dan dapat bertatapmuka langsung dengan mereka untuk saling berbagi pengetahuan dan pengalaman. Kami juga saling memperkenalkan atau mempelajari isu-isu perempuan dan sosial dari negara masing-masing, serta memperluas jaringan dan membuka peluang-peluang baru untuk saling bekerjasama di masa depan.


Apresiasi dan terima kasih saya untuk In-Docs, Alm. Chandra Tanzil, dan Yuli Andari, serta keluarga dan kawan-kawan yang banyak memberikan bantuan sehingga saya bisa memiliki pengalaman ini.


KL - New Delhi - Pondicherry - Jakarta, 2012


Silahkan tonton atau download filmnya di sini: http://www.engagemedia.org/Members/KIKIFEBRIYANTI/videos/itsmybody/view

pwagindonesia:

The Endless Effort of Women Survivors

By Olin Monteiro

The Peace Women Across the Globe Indonesia (PWAGI) organized a Women Survivor Learning Forum on May 7-8, 2012, in Jakarta. The forum consisted of discussions and story-sharing sessions between women survivors from different…

(Source: thejakartaglobe.com)

1 note

HIDUP-MATI

Predator-predator… Sekitar setiap 5 - 10 menit nyawa terancam. Naik metromini yang sopirnya mungkin masih berusia belasan dan balapan di jalan entah punya SIM atau tidak, naik ojek dijepit truk dan bus, naik kereta berdesakan kaki baru masuk sebelah, eh keretanya udah jalan, jalan kaki diserempet atau diseruduk dari belakang. Kemungkinan-kemungkinan dari kejahatan dan penyerangan.

Predator-predator… Tapi kemudian menghadapi kematian yang seperti itu tidak lagi menakutkan, begitu juga rasa sakit. Bukan sakit atau kematian yang menjadi kekhawatiran, tapi ketika sakit atau mati lalu menyusahkan orang lain. Bukan cuma soal energi dan pikiran, tapi juga soal biaya yang harus dikeluarkan.

Predator-predator… Hal yang mengerikan dan menggelikan sudah seperti emulsi yang sulit dibedakan. Buktinya kita justru tertawa ketika kita sendiri terjatuh atau orang lain terjatuh. Resistensi?

Ah, saya jadi ingat seorang kawan. Dulu kami selalu bilang, kami tidak takut mati tapi takut tidak punya kehidupan.

JANGAN SEDIH KALO GA BISA LIHAT BINTANG DI LANGIT, KARENA ADA BANYAK DI KULKAS 711

JANGAN SEDIH KALO GA BISA LIHAT BINTANG DI LANGIT, KARENA ADA BANYAK DI KULKAS 711

YOU HAVE LOST SENSE

I tie my hair back

to look like a girl you once loved.

And for years,

I wash my mouth of beer

before returning home.

I never mention God in your presence.

There’s nothing that deserves your forgiveness

You are kind, but you must have lost sense

when you made me believe

the world is like a girl’s school

and I would have to set a side my desire

to remain the teacher’s pet

-IMAN MERSAL-

A SHORT FILM

It was not meant to hurt.

It had been made for happy remembering

By people who were still to young

To have learned about memory.

Now it is a dangerous weapon, a time-bomb,

which is a kind of body-bomb, long-term, too.

Only film, a few frames of you skipping, a few seconds,

You aged about ten there, skipping, and still skipping.

Not very clear grey, made out of mist and smudge,

This thing has a fine fuse, less a fuse

Than a wave length attuned, an electronic detonator

To what lies in your grave inside us.

And how that explosion would hurt

Is not just an idea of horror but a

flash of fine sweat

Over the skin-surface, a bracing of nerves

for something that has already happened.

-TED HUGHES-

SCREAM

Silent women

filled the corridor leading to you.

They prepared for a ritual

to scrape rust

piled on throats

that can only test their range

in collective screaming.

-IMAN MERSAL-